DIBALIK
LAYAR PERJUANGANKU
Perjuanganku
berawal dari sebuah impian. Semua orang akan melakukan usaha yang keras untuk
meraih impiannya. Berawal dari pendidikan yang ingin diraih. 3 tahun menjalani
pendidikan di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan dengan jurusan Akuntansi. Itupun
merupakan suatu perjuangan bagiku. Pada awal masuk sekolah, memilih jurusan
akuntansi tidak pernah terbesit sama seklai di pikiranku. Tetapi kedua orang
tua ku terutama ayahku, ia ingin aku mengambil jurusan akuntansi. Dan aku tidak
bisa menolak. Karna ada pepatah yang mengatakan keputusan orang tua adalah
keputusan yang paling terbaik untuk anaknya. Awalnya, sungguh aku merasa
terbebani dengan akuntansi. Hingga 3 tahun mempelajarinya, banyak sekali suka
duka yang kulewati. Bahkan, tubuh ini pun butuh perjuangan untuk sehat. Sempat
terkena penyakit tyfus, yang menurut dokter pada saat itu karena terlalu banyak
berfikir, kelelahan dan stress. Sungguh perjuanagn sekali bagiku.
Di
akhir tahun sekolah, siswa/i kelas 3 dimana harus melaksanakan ujian. Mulai
dari ujian sekolah, ujian praktek dan ujian nasional yang membuat bulu bergidik
saat mendengarnya. Ujian Nasional, yang seringkali ditakutkan oleh para siswa
dan siswi. Perjuangan yang amat luar biasa di tahun 2011 sampai 2012 itu. Mulai
mengejar semua materi, nilai dan yang berhubungan dengan kelulusan. Berlatih
utuk beberapa ujian praktek yang amat menyita waktu, itu semua kulewati.
Tetapi ada sesuatu yang mengejutkan. Pada bulan April,
ternyata aku terpilih menjadi peserta SNMPTN Undangan. Aku tidak pernah
membayangkan, aku menjadi salah satu peserta yang mendapat SNMPTN Undangan.
Betapa sungguh senangnya hatiku saat itu. Dengan rasa optimis aku menunggu
pengumumannya. Pada saat itu aku berfikir, jikavtidak lolos SNMPTN, aku akan
bekerja. Tetapi semakin mendekati dengan pengumumannya, justru hasratku untuk
melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi semakin besar. Memang pada saat itu
aku memikirkan biaya. Aku bukanlah berasal dari keluarga ekonomi kelas atas,
selain itu aku sekolah di sekolah kejuruan dimana lulusannya dipersiapkan untuk
bekerja. Disitulah aku mengalami kebimbangan dan pasrah akan hasilnya.
Dan akhirnya, pada tanggl 26 Mei 2012 pengumuman itu
diumumkan. Sungguh saat itu rasanya tak karuan, karna pada saat hari itu juga
pagi harinya pengumuman kelulusan sekolah. Alhamdulillah aku lulus sekolah
dengan nilai UN yang memuaskan. Tetapi sore hariny, aku harus menghadapi
kenyataan bahwa aku tidak lolos SNMPTN Undangan. Sungguh sedih dan kecewanya
aku pada saat itu. Padahal aku memilih UNJ, ya satu-satunya universitas yang
aku inginkan. Bimbang apakah aku akan bekerja atau ikut SNMPTN tulis karena
pada umumnya SNMPTN tulis itu membahas soal-soal yang telah dipelajari selama
SMA, sedangkan aku berasal dari SMK, yang tidak mempelajari pelajaran itu. Dan
pada saat itu waktu hanya tersiksa 10 hari menuju ujian SNMPTN tulis. Aku
sungguh bingung, akhirnya banyak yang mendukungku untuk ikut SNMPTN tulis. Ya,
mereka adalah keluargaku dan para sahabatku. Kuhabiskan sisa waktu itu untuk
mempelajari semua materi-materinya. Dan aku sungguh merasa bingung dan
terbebani, karena dalam waktu yang amat singkat itu mau tak mau aku harus
menguasai semuanya. Dan sempat merasa iri dengan teman-teman yang lain yang
bisa berlibur merayakan kelulusan sekolah. Tetapi aku tetap berusaha utuk tetap
belajar. Hingga hari ujian tiba, aku mendapat lokasi ujian yang jauh dari
rumahku. Butuh perjuangan pula untuk sampai ke lokasi ujian. Kebetulan pada
saat itu aku diantar oleh ayahku menggunakan sepeda motor. Dan ia pun
menungguku sampai selesai ujian. 2 hari ujian itu kulewati dengan penuh
semangat dan optimis. Walaupun ada banyak soal yang tidak bisa kujawab dan ada
beberapa soal yang kujawab menggunakan feeling. Tapi aku berusaha untuk tetap
optimis. Seperti sebelumnya, semakin mendekati pengumuman, rasa takut itu
muncul dan kali ini lebih dahsyat. Karena aku berfikir kalau sampai yang kali
ini gagal lagi aku harus kemana, harus apa, sedangkan tujuanku hanya satu yaitu
bisa menjadi mahasiswi UNJ lewat jalur SNMPTN tulis , karna biayanya juga yang
tidak terlalu berat. Hingga hari pengumuman itupun tiba, sungguh rasa takut itu
tidak bisa dibendung lagi, dan finally lag-lagi namaku tidak tercatat sebagai
peserta yang lolos, sedangkan beberapa sahabatku yang berjuang bersamaku lolos.
Sungguh betapa hancurnya, kecewanya, sedihnya, terpuruknya aku saat itu. Hanya
bisa menangis, apalagi pada saat melihat wajah kedua orang tuaku yang kecewa.
Aku menangis selayaknya orang yang berduka, kehilangan harapan dan impian.
Menangis terisak-isak hingga sesak, sungguh bila mengingat itupun sekarang
rasanya ingin menangis. Seperti tercabik-cabik rasanya dan terus bertanya
“kenapa ya Allah kenapa??”. Bahkan kedua orang tuaku mencoba untuk menenangkan
tetapi gagal. Hingga seseorang, mencoba untuk menenangkanku lewat telfon,
berusaha untuk membuatku berhenti menangis, dan berusaha untuk membangkitkan
semangatku untuk mengikuti PENMABA. Ya dan itu berhasil, dia berhasil membuat
ku tersenyum saat berbicara dengannya. Akupun merasa sedikit tenang, walaupun
hanya sedikit. Kesedihanku ikut berlanjut sampai keesokan paginya, bahkan
tidurku pun gelisah. Kuambil keputusan bahwa aku akan mengikuti PENMABA.
Pendaftaran untuk mengikuti PENMABA nya pun butuh
perjuangan. Tapi kali ini kubulatkan tekadku dan rasa optimisku. Aku percaya
Allah telah mempersiapkan yang terbaik untukku. Ku terus belajar, berusaha lebih
baik lagi agar bisa lolos kali ini. Hingga tibalah waktu ujian berlangsung,
kali ini aku merasa lebih optimis. Kujawab soal-soal itu, kulewati hari itu
dengan semangat dan optimis. Inilah kesempatan terakhirku agar bisa menjadi
mahasiswi UNJ.
Dan hari itu pun tiba. Tanggal 3 Agustus 2012, menjadi
saksinya. Sungguh hari itu aku sudah pasrah akan hasilnya. Perasaan ku lebih
tenang dari yang sebelumnya. Sama sekali tidak mengalami deg-degan. Tiba di
Fakultas Ekonomi UNJ. Kulihat banyak orang sedang berkerumun di depan papan
pengumuman. Bersama sahabatku, aku melangkah ke depan papan pengumuman, mencari
apakah namaku tercantum disana. Dan finally, kulihat namaku tercantum di
Pendidikan Ekonomi di urutan ke 117. Sungguh haru dan senang, dan tak sadar aku
lompat kegirangan dengan mata berkaca-kaca bersama sahabatku, yang juga namanya
tercantum tetapi di pendidikan tata niaga. Kami sungguh merasa hari itu seperti
mimpi. Akhirnya, menjadi mahasiswi UNJ sudah tercapai. Sungguh nikmat Allah
yang paling luar biasa di ramadhan kali ini. Itulah kisah dibalik perjuanganku
untuk menjadi seorang mahasiswi UNJ.